OTOSPRINT – BYD Denza B5 1.5L merupakan SUV plug-in hybrid lima tempat duduk yang dikembangkan untuk penggunaan jalan raya sekaligus off-road. Model ini menggunakan konstruksi body-on-frame dan teknologi DMO Super Hybrid dengan mesin bensin turbo 1,5 liter serta dua motor listrik. Di beberapa pasar, model yang sama juga dikenal sebagai DENZA B5 atau BAO 5.
Versi yang tercantum pada basis data Indonesia menggunakan mesin empat silinder 1.498 cc dengan baterai LFP 31,8 kWh dan sistem penggerak AWD. Output yang dicantumkan mencapai sekitar 650 hp dengan torsi 760 Nm, meskipun output resmi dapat berbeda menurut homologasi masing-masing negara.
Sebagai pembanding, DENZA Australia mencantumkan B5 dengan output sistem 400 kW dan torsi 760 Nm serta akselerasi 0 hingga 100 km/jam dalam 4,8 detik. Jarak tempuh listrik murninya mencapai sekitar 90 km berdasarkan WLTC pada konfigurasi Australia.
Denza B5 memiliki panjang 4.888 mm, lebar 1.970 mm, tinggi 1.920 mm, dan wheelbase 2.800 mm. Kabinnya menyediakan lima tempat duduk, sedangkan radius putarnya sekitar 5,9 meter.
Kemampuan off-road menjadi salah satu karakter utama B5. Sistem body-on-frame dipadukan dengan locking differential elektrik pada kedua gandar, sementara teknologi DiSus-P pada konfigurasi tertentu dapat mengatur tinggi serta karakter suspensi sesuai kondisi jalan.
Interiornya menawarkan pendekatan premium dengan jok kulit, pemanas dan ventilasi kursi depan, fungsi pijat, panoramic sunroof, serta sistem audio DEVIALET 16 speaker pada spesifikasi Australia. Kontrol fisik untuk differential lock dan drive mode juga dipertahankan agar mudah digunakan saat berkendara off-road.
Sistem keselamatan B5 mencakup rangkaian ADAS, kamera sekeliling, serta struktur bodi berkekuatan tinggi. Model ini bahkan telah memperoleh rating keselamatan lima bintang ANCAP pada konfigurasi Australia.
Secara keseluruhan, BYD Denza B5 1.5L menawarkan kombinasi mesin turbo, dua motor listrik, baterai Blade 31,8 kWh, AWD, dan kemampuan off-road serius. Listing Indonesia saat ini masih menempatkannya sebagai model mendatang, sehingga angka tenaga dan detail perlengkapan final untuk Indonesia tetap perlu dibedakan dari spesifikasi ekspor Australia maupun China.